Sudah musim hujan.
Kampung langit mulai melepas anak-anak air untuk meluncur membasahi bumi, menembus tanah.
Seorang anak laki-laki penjual koran berjalan mengitari lampu merah. Berjalan berkeliling tanpa sandal, tanpa orang tua. Ia mendekap erat dagangannya yang tetap basah. Seluruh kota mengacuhkannya. Tubuhnya menggigil. Sama menggigilnya dengan tubuhku. Aku baru mengganti freon AC mobilku. Kurasa setelah ini aku harus memaksa diriku sendiri untuk berhenti mengeluh dan mulai bersyukur. Serta mulai bersikap rendah hati dan mencintai apa yang aku miliki hari ini.
Di sebelah kananku, melintas sebuah mobil Fortuner berwarna putih dengan kecepatan lumayan untuk ukuran hujan deras. Keren sekali, batinku. Kurasa dia baru saja membelinya langsung dari showroom, yah, plat nomornya masih berwarna putih.
Tiba-tiba...
Crasshhhhhhh.
Mobil kurang ajar. Pasti kreditan! Belum lunas! Dikit lagi ditarik leasing! Kaca depan mobilku hampir tak terlihat. Si Fortuner sialan lewat seenaknya, menyipratkan air sebanyak-banyaknya kearah mobilku, lalu dengan merdekanya ia memotong jalanku, mengambil lajur kiri untuk segera belok tanpa rasa berdosa. Bagaimana jika aku tidak sengaja melindas makhluk apapun yang melintas didepanku? Hah?
Hng, harus kubalas.
Aku segera mengambil ancang-ancang untuk manuver. Haha, bukan menuver juga sih, hanya sedikit skill drift yang diajarkan orang-orang untuk menyemprotkan genangan air kearah kendaraan di sebelah kiri.
Craaasssh, berhasil! Setengah mobilnya terkena cipratan airku. Haha! Rasakan.
Mamam tuh kaca yang mendadak blur.
Pesan moral untuknya, jalanan itu milik bersama. Jangan karena kepentingan sendiri lantas mengorbankan kepentingan orang lain.......
Oh.....
Astaga.....
Apa yang sudah aku lakukan.
Tanpa sadar air itu juga tersiram kearah penjual mie ayam yang sedang mendorong gerobaknya di tengah derasnya hujan, si penjual hanya menggunakan mantel plastik lusuh berwarna transparan. Topinya basah.
Gara-gara aku. Mungkin juga cipratanku tadi terkena mangkuknya, saus, atau apapun yang merugikannya.
Dan apa yang dia lakukan?
Tidak, Dia tidak bermanuver seperti yang kulakukan tadi. Dia juga tidak merutuk seperti yang kulakukan tadi.
Dia jauh lebih tenang, padahal semburan airku mengenai tubuhnya. Sekarang dia basah.
Aku diam sesaat.
Aku terlalu pengecut untuk turun dan berbasah-basahan
Aku menepi sebentar lalu membuka kaca jendela untuk berteriak minta maaf.
Hanya itu. Hanya sekilas, entah dia mendengar atau tidak.
Harusnya aku memborong dagangannya agar aku tidak dihantui rasa bersalah. Atau setidaknya aku bersikap adil padanya.
Astaga. Orang macam apa aku ini.
Kurasa aku ini memang sampah.
Karena aku tidak melakukan apa-apa.
Mulutku hanya sanggup merapalkan doa, agar besok dan seterusnya dagangannya ramai dibeli orang. Aku berdoa setulusnya.
Diantara hujan yang menyiram bumi, aku mendapatkan sesuatu untuk diriku sendiri.
Sebuah Pesan moral. Bahwa setidaknya kita harus berkaca. Terkadang bukan orang lain yang melakukan hal buruk, melainkan mata kita yang terlalu picik untuk menyadari bahwa kitalah sumber keburukan itu sendiri.
Hujan ini banyak memberiku pelajaran.
Sebuah sore, tulisan pertama.
Halo, 2018